Ketika Hutan Belantara Berubah Jadi Kebun Sawit

Merauke, Papuatoday.id – Alfasera I sampai IV di Distrik Muting, Kabupaten Merauke, sejak dulu hutan lebat, kini berubah jadi perkebunan kelapa sawit.

Di sepanjang jalan hingga menuju ke kantor maupun mess karyawan milik PT Agriprima Cipta Persada (ACP), tumbuh dengan subur kelapa sawit. Hutan yang menjadi nafkah kehidupan masyarakat asli Papua untuk berburu rusa, babi, saham (kangguru) dan lain-lain, kini hilang tak berbekas.

Janji muluk PT ACP memberikan berbagai bantuan kepada masyarakat dari sembilan marga di Distrik Muting, hanyalah isapan jempol belaka.

Setelah hutan habis dibabat dan ditanami kelapa sawit sejak tahun 2013 silam, satu persatu janji tak kunjung dipenuhi, sehingga memunculkan rasa kecewa  dari masyarakat pemilik ulayat.

Seorang pemilik ulayat, Pius Mbanang Ndiken yang juga Satpam di PT ACP Mutin kepada Jubi Senin 22 Oktober 2018 menuturkan, ketika pertama masuk dan melakukan sosialisasi, banyak janji disampaikan perusahaan. Masyarakat sembilan marga di Distrik Muting, merelakan hutan mereka dibabat seluruhnya.

“Hutan kami telah dibabat semuanya untuk menanam kelapa sawit. Bahkan, tempat-tempat sakral yang dilindungi dan dijaga dari generasi ke generasi, ikut digusur,” ujarnya.

Dia mengatakan ketika perusahaan mulai beraktivitas, ada beberapa kesepakatan dibuat bersama dan dijanjikan segera direalisasikan. Misalnya, perusahaan akan membangun rumah bagi masyarakat pemilik marga. Juga memberikan lima unit sensor, namun baru direalisasikan dua unit.

Selain itu, kata Pius, membiayai pendidikan anak-anak dari delapan marga ke jenjang SMA sampai perguruan tinggi di Kalimantan. Namun tak ada realisasi juga.

Janji lain dari perusahaan adalah mendirikan koperasi sekaligus modal usaha bagi sembilan marga. Namun baru dilakukan penandatanganan akta, sementara realisasi di lapangan belum nampak.

“Kami menilai PT ACP melakukan penipuan dan pembohongan terhadap masyarakat asli Papua yang telah mengorbankan hutannya demi kepentingan investor,” ujarnya.

Ditegaskan, dengan pembabatan hutan, semua satwa di dalam telah menghilang dan masuk ke rawa dalam beberapa tahun terakhir.

Ditanya berapa luasan lahan dibuka menanam kelapa sawit, Pius mengaku, katanya hanya 7.000 hektare. Namun di lapangan sudah mencapai 20.000 lebih hutan dibabat demi kepentingan sawit.

“Kalau bapak tidak percaya, nanti saya hantar keliling lahan dan melihat dari dekat bagaimana ribuan hektare hutan dibabat hanya untuk kepentingan investor,” tegasnya.

Pius juga mempersoalkan pihak perusahaan yang hanya mempekerjakan orang asli Papua di lapangan menyemprot sawit dan melakukan pemupukan. Sedangkan di kantor sama sekali tak ada.

“Beberapa kali kami membawa anak-anak dari sembilan marga yang tamat SMA untuk bekerja di kantor, namun dijanjikan bersabar,” ujarnya.

Kekecewaan juga diungkapkan pemilik ulayat lain, Filemon Basik-Basik. “Kami ini hanya dijanjikan pihak perusahaan, tetapi realisasinya sama sekali tidak,” ungkapnya.

“PT ACP menipu kami masyarakat dari delapan marga hanya untuk kepentingan investasi menghancurkan hutan kami demi kelapa sawit,” katanya.

“Mana buktinya yang telah dijanjikan perusahaan kepada masyarakat pemilik ulayat ketika mulai melakukan sosialisasi awal. Kami merasa telah dirugikan dengan kehadiran investor yang melakukan penipuan,” tegasnya.

Baru 8.500 hektare dibuka

Secara terpisah Humas PT ACP, Eddy Mulya Setiadi mengatakan, aktivitas penanaman kelapa sawit berlangsung sejak tahun 2013-2015 dengan luasan lahan yang telah dibuka sekitar 8.500 hektare.

Sedangkan jumlah karyawan di perusahaan mencapai 1500 orang. Dari jumlah itu, 50 persen adalah masyarakat asli Papua termasuk pemilik tanah ulayat dari delapan marga. Sedangkan sisanya adalah  non Papua baik dari Jawa, Makassar maupun Nusa Tenggara Timur (NTT)

Ditanya rencana pembukaan lahan lagi, Eddy mengaku, oleh karena adanya isu dari NGO, sehingga tertahan termasuk penolakan dari  marga Mahuze. Luasan lahan sekitar 10.000 hektare yang sedianya dibuka.

Ditambahkan, usia tanam dari kelapa sawit sudah berjalan tiga tahun dan memasuki tahun keempat, mulai dilakukan panen. Sedangkan penjualan dilakukan ke PT BIA.

“Dalam bulan Januari 2019, mesin bersama peralatan lain sudah didatangkan. Sekaligus dapat memproduksi langsung kelapa sawit di Muting,” ujarnya.

 

BACA JUGA :  Tahan Imbang Persipura di Laga Uji Coba, Elang Brimob Siap Bermain di Liga III Indonesia

Red/Papuatoday.id

 

Komentar Anda

Subscribe

Thanks for reading Information in here.

%d blogger menyukai ini: