45 Dokter Spesialis Kawal Tim Kesehatan Di PON XX

Jayapura, Papuatoday.id Kepala Dinas Kesehatan Papua, dr. Aloysius Giay M.Kes mengatakan, pihaknya menyiagakan 45 tenaga dokter spesialis tergabung dalam tim kesehatan pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XX/2020.

Para dokter spesilias ini akan memimpin tim kesehatan di setiap venue pertandingan yang tersebar pada 5 klaster PON Papua, seperti kota/kabupaten Jayapura, kabupaten Biak Numfor, kabupaten  Jayawijaya, kabupaten Mimika dan kabupaten Merauke.

Ditambah 4 kabupaten peyangga yakni kabupaten Keerom, kabupaten Supiori, kabupaten Kepulauan Yapen dan kabupaten Tolikara.

Aloysius Giay saat mendampingi Gubernur Papua bertemu Menteri Kesehatan di Kantor Kementerian Kesehatan Jakarta, Rabu (31/10) siang mengatakan, dokter spesialis tersebut antara lain spesialis hiperbarik bertugas di cabang olahraga (cabor) selam laut dan selam kolam. 

Dokter Traumatik, Dokter Spesialis Ortopedi atau Spesialis Bedah Tulang, Dokter Spesialis Bedah Saraf yang bertugas di cabor beladiri seperti karate, pencak silat, tinju, wushu, tarung derajat, dan lainnya. 

Para dokter ini selain memiliki spesifikasi khusus sesuai kompetensi pendidikannya, mereka juga memiliki kekhususan didalam sport medical center.

“Mereka dilatih khusus untuk penanganan kegawatdaruratan di arena-arena olahraga,” katanya.

Giay menambahkan, Dinkes juga menyiapkan tim khusus untuk mengawasi keamanan pangan. Tim ini dipimpin dokter spesialis ahli gizi dan nutrisi ditambah petugas dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

Dan tim dokter ahli research dan juga dokter ahli penyakit dalam tropical (penyakit menular) guna menangani penyakit-penyakit dalam menular sekaligus mengeliminasi penyebaran bibit penyakit malaria di kabupaten-kabupaten yang masih ada endemik malaria seperti kabupaten Jayapura, kabupaten Keerom dan kabupaten Mimika.

“Tim ini akan melakukan pencegahan preventif secara periodik. Minimum 6 bulan sebelum pelaksanaan PON daerah-dareah kluster yang termasuk endemik malaria harus terbebas dari bibit penyakit malaria. Awal Maret hingga April 2020 sudah bebas Malaria.”

Mengenai akreditasi rumah sakit di 5 klaster dan kabupaten peyangga, Aloysius Giyai mengatakan akan berupaya untuk meningkatkan akreditasi rumah-rumah sakit di Papua, salah satunya RSUD Jayapura sehingga terakreditasi dengan nilai paripurna.

Sebab jika tidak, maka rumah sakit tersebut tak bisa menjadi fasilitas kesehatan rujukan tertinggi selama PON Papua dan akan dicari alternatif rumah sakit lain seperti RS Provita Jayapura.

Dinkes juga akan menyiapkan rumah sakit terapung untuk penanganan medis bagi cabor-cabor yang venuenya berada di pinggir laut.

Kadinkes Papua mengatakan pihaknya dalam waktu dekat akan mengundang kepala dinas kesehatan dan direktur rumah sakit di 5 klaster dan 4 kabupaten penyangga untuk menyusun bersama serta menyiapkan grand design layanan kesehatan PON XX.

“Pengalaman pada penyelenggaraan PON XIX di Jawa Barat dan Asian Games di Sumatera Selatan dijadikan studi dalam menyusun grand design ini,”ujarnya.

 

BACA JUGA :  Festival BMW 2018 gairahkan UKM Papua

Menjawab wartawan mengenai suport dari Kementerian Kesehatan, Giay menyatakan komitmen serta dukungan dari Kemenkes tak perlu diragukan lagi.

Dalam kurun waktu 4 tahun terakhir, Kemenkes telah memberikan dukungan alokasi anggaran yang besar dari Dana Alokasi Khusus (DAK) dalam menopang pelayanan kesehatan di Papua.

Terhitung dana DAK dari Kemenkes untuk Papua mencapai Rp6,4 trilliun yang dikucurkan pada tahun 2015 sebesar Rp1,4 trillun, tahun 2017 Rp1,7 trilliun, tahun 2018 Rp1,8 trilliun dan direncanakan tahun depan (2019) Rp1,5 trilliun.

“Untuk dukungan dari Kemenkes,  saya tidak ragu karena  dalam kurun waktu 4 tahun terakhir Kemenkes memberikan dukungan sangat luar biasa melalui Dana Alokasi Khusus (DAK),” pungkas Giay.

Red BTX / Papuatoday.id

Komentar Anda

Subscribe

Thanks for reading Information in here.

%d blogger menyukai ini: