Papua Masih Bagian NKRI

Semarang, Papuatoday.id, (12/10/2019) – Acara Ngopi Bareng Suara Merdeka, kemarin mengangkat tema Multikulturalisme Bersama Mahasiswa Papua, menghadirkan sejumlah narasumber mahasiswa Papua dari beberapa jurusan. Salah satunya Sepi Pekei (19), mahasiswa asal Kabupaten Nabire, Provinsi Papua, tercatat duduk di semester lima pada jurusan Pendidikan Teknik Informatika (PTI). Tiga mahasiswa lainnya yaitu Yupius Tisume, M Hamid Nur Rahman, dan Marius Warkuta. Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan bahwa warga Papua masih mengakui menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Niat dan rencana memisahkan diri, hanya dihembuskan oleh pihak-pihak tertentu dan tidak semua warga Papua menginginkan hal itu.

Kehidupan para mahasiswa Papua tersebut di Kota Semarang juga terbilang baik-baik saja. ”Saya sekarang sudah 2 tahun lebih kuliah di UPGRIS. Kalau dulu kakak kuliah di Semarang juga, tapi karena saya mau jadi guru, jadi memilih kuliah disini. Beda dengan kakak yang ambil jurusan Administrasi Negara dan kuliah di kampus lain,” ujar Sepi, Jumat (11/10/2019). Selama di Semarang, dia mengaku tidak mengalami kesulitan berbaur dengan mahasiswa dari daerah lain. Hanya saja pada awal-awal kuliah, dia mengaku sempat mengalami sedikit kesulitan beradaptasi.

Misalnya terkait makanan, dia cenderung menghindari yang manis karena di sana makanannya berjenis asin. ”Selain itu, cuacanya berbeda. Kalau di Semarang panas sedangkan di Nabire dingin karena daerah pegunungan.

Di sini saya punya beberapa teman asal Jawa. Ada Kusuma dari Pati, Ditus dari Solo, dan Slamet dari Jepara,” papar dia. Selama di Kota Lunpia, untuk menyambung hidup, dia dan teman-temannya memilih berjualan makanan kecil seperti makaroni. Hal itu sekaligus menghapus stigma mahasiswa Papua itu malas, menjadi terbantahkan. ”Saya indekos di daerah Genuk. Suka nongkrong di kampus sama teman-teman, atau di Simpang Lima. Rencana setelah selesai kuliah, akan kembali ke Papua buat jadi guru dan mengajar pendidikan di sana,” ujar dia. Sementara itu, Wakil Rektor 3 Bidang Kemahasiswaan UPGRIS, Nizaruddin, menyatakan, jika perbedaan itu merupakan sesuatu yang pasti ada di dalam kehidupan. Untuk itu, setiap orang harus saling mengisi untuk kemajuan sebuah bangsa, dengan kemampuan dan profesi masing-masing. ”Perbedaan potensi dan kemampuan itu, harus digunakan bersama- sama.

Untuk saling mengisi dalam pembangunan, sehingga menjadi paduan yang indah untuk membawa kepada kejayaan Indonesia,” terang dia. Sementara untuk sesi kedua acara itu, diisi dialog membahas pengembangan bakat dan minat mahasiswa UPGRIS. Menghadirkan beberapa mahasiswa berpotensi seperti Dalang Wayang Samsul Gondo, mahasiswa yang menjadi pengrajin tas dari bahan baku limbah kemasan kopi Anisa Elma, dan perintis kopi kulit pisang Anggun. Sebelumnya, juga ada cek kesehatan dari RS Wiliam Booth dan dialog dengan tema ”Mewaspadai Penyakit Seks Menular” yang dibawakan Seksolog, Dr Bambang Tejo.

RED BTX/Papuatoday.id

Posting Terkait

Baca Juga :  Seratusan Peserta Meriahkan Karnaval Berwawasan Nusantara Di Timika

Subscribe

Thanks for reading Information in here.

%d blogger menyukai ini: